Bacalah, Lalu Tulislah!

Puasa Itu Menahan, Bukan Menunda

7 Jun 2017 - 11:49 WIB

Kata puasa dalam bahasa Arab, adalah ‘ash-shaumu’ atau ‘ash-shiyaamu’. Sedangkan kata ‘ash-shiyaamu’ menurut bahasa Arab adalah semakna dengan ‘al-imsaku’ yang berarti menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, menahan bicara, menahan tidur, atau dengan kata lain: mampu mengendalikan diri dari segala sesuatu (al-imsaaku wal-kaffu ‘anisy-syai) Sedangkan puasa menurut istilah (syari’at) agama Islam ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (membukakan) selama satu hari penuh, sejak dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. ( Dari berbagai sumber )

Dari pengertian di atas, dapat diambil satu kesimpulan bahwa puasa itu menahan, mengendalikan, bukan menunda.  Apabila waktu berbuka telah tiba, semestinya kita tetap mampu menahan dan mengendalikan nafsu, bahkan hingga ketika bulan Ramadhan telah berlalu. Puasa bukanlah menggeser waktu, dari siang menjadi malam. Siang berpuasa, malam dipuas-puasin. Siang ditahan-tahan, malamnya balas dendam.

Puasa yang sukses semestinya membawa perubahan sikap dan kepribadian kita. Ramadhan selama sebulan seharusnya cukup untuk mendidik kita dalam menghadapi sebelas bulan berikutnya. Sangat disayangkan apabila puasa yang dikerjakan tidak menghasilkan apa-apa. Puasa perut dan syahwatnya, tapi mata, telinga, tangan, kaki dan hatinya berlaku seperti biasa, mengikuti nafsu belaka. Jangankan sebelas bulan berikutnya, sehari-harinya saja tak lebih dari sekedar perubahan gaya hidup, pengalihan waktu dari siang ke malam saja. Astaghfirulloh!

Mari kita jaga dan hormati bulan Ramadhan yang suci dan mulia ini. Kita manfaatkan bulan penuh barokah dan ampunan ini untuk mendidik diri kita menjadi pribadi yang taqwa. Ramadhan bukan hanya siang, tapi termasuk juga malam. Sayang sekali jika lebih dari dua belas jam lebih kita menahan lapar, haus dan dorongan nafsu yang ketika di luar puasa halal kita lakukan, namun saat waktu berbuka datang, kita seolah lupa dengan segalanya. Kita seperti seorang pendendam yang bertemu setelah sekian lama menunggu. Meski makan, minum halal di malam hari, tapi semestinya tetap dilakukan dengan terkendali.


TAGS   opini / ramadhan / puasa / menahan /


Author

Nurudin
@abinurudin
abinurudin@yahoo.co.id

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Kategori

Archive